Cara Memulai Journaling Kalau Kamu Merasa 'Nggak Puitis' (Plus Ide Prompts!)
HealingWellness

Cara Memulai Journaling Kalau Kamu Merasa 'Nggak Puitis' (Plus Ide Prompts!)

A
Andhika WApr 21, 2026

Bagaimana cara memulai journaling untuk pemula? Mulailah dengan memilih medium yang paling praktis buatmu, entah itu buku tulis biasa, aplikasi notes di HP, atau selembar kertas kosong. Lupakan ejaan yang sempurna atau kalimat puitis; tulislah seperti kamu sedang curhat pada diri sendiri. Cara termudah adalah menggunakan teknik brain dump, yaitu menuangkan semua isi pikiran yang mengganggu ke atas kertas tanpa filter sama sekali. Kamu juga bisa menjawab pertanyaan sederhana (prompts), seperti "Apa satu hal yang menguras energiku hari ini?" atau "Apa yang membuatku tersenyum tadi?". Luangkan 5 menit saja sehari untuk memindahkan beban dari otak ke kertas agar pikiranmu kembali jernih.


Setiap kali mendengar kata journaling, apa bayangan pertama yang muncul di kepalamu? Mungkin kamu membayangkan sebuah buku leather-bound mahal estetik, lengkap dengan tulisan kaligrafi yang rapi, dan bahasa puitis sekelas penulis novel best-seller.

Atau, kamu malah teringat buku diary zaman SMP yang digembok kecil dan isinya penuh curhatan cringe soal gebetan?


Jujur saja, ekspektasi-ekspektasi inilah yang sering bikin banyak orang dewasa malas atau merasa "nggak bakat" untuk mulai menulis jurnal. Kita merasa tulisan kita jelek, bahasa kita berantakan, dan hidup kita terlalu membosankan untuk didokumentasikan.


Padahal, journaling di ranah wellness dan mental health sama sekali bukan tentang membuat karya sastra. Ini adalah murni tentang survival tool untuk otakmu. Mari kita bongkar mitosnya dan pelajari cara memulai journaling yang realistis, berantakan, tapi sangat melegakan hati.

Mengapa Journaling Itu Penting untuk Kesehatan Mental?

Bayangkan otakmu itu seperti browser komputer yang membuka 50 tab sekaligus. Ada tab pekerjaan, tab cicilan rumah, tab pertengkaran dengan pasangan, sampai tab yang isinya lirik lagu nyangkut dari TikTok. Apa yang terjadi? Komputermu pasti lagging, lemot, dan akhirnya crash.


Inilah yang terjadi saat kita overthinking. Otak kita kelebihan beban kognitif (cognitive load).

Menulis jurnal berfungsi sebagai external hard drive untuk otakmu. Saat kamu memindahkan isi kepalamu ke atas kertas, kamu sedang menutup tab-tab yang tidak perlu itu. Tulisanmu membantu mengurai benang kusut kecemasan menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dipahami secara logis. Kamu tidak lagi dikendalikan oleh emosimu, karena emosi itu sudah pindah ke halaman buku.

Bagaimana Cara Memulai Journaling Kalau Merasa Tidak Puitis?

Buang jauh-jauh bayangan soal menjadi penulis profesional. Ini adalah ruang amanmu sendiri. Berikut adalah panduan langkah demi langkah cara memulai journaling tanpa beban.

1. Jangan Terbebani Estetika (Lupakan Buku Mahal Dulu)

Banyak pemula gagal di hari pertama karena mereka membeli buku jurnal yang terlalu bagus. Akibatnya? Mereka takut merusak buku tersebut dengan tulisan jelek atau coretan berantakan.


Solusinya, ambillah buku tulis termurah yang bisa kamu temukan. Kertas buram atau blocknote sisa dari goodie bag seminar juga tidak masalah! Semakin biasa bukunya, semakin bebas kamu mencoret-coret tanpa merasa bersalah.

2. Bebaskan Diri dari Aturan Tata Bahasa (No Grammar Police!)

Ini adalah aturan emas dalam self-reflection. Jangan pedulikan huruf kapital, titik koma, atau struktur subjek-predikat-objek. Kalau kamu mau menulis setengah pakai bahasa Indonesia, setengah bahasa Inggris, lalu diselingi bahasa daerah dan kata makian sekalipun—lakukan saja!


Buku jurnalmu tidak akan dinilai oleh guru bahasa. Menulis cepat tanpa mengedit adalah cara terbaik untuk membiarkan alam bawah sadarmu berbicara jujur.

3. Mulai dengan Teknik Brain Dump

Kalau bingung mau mulai dari kalimat apa, gunakan teknik brain dump (membuang isi otak). Pasang timer di HP selama 3 menit. Selama 3 menit itu, tulis apa saja yang melintas di kepalamu tanpa henti.


Kalau kepalamu kosong, tulis saja: "Aku nggak tahu mau nulis apa, tanganku pegal, aku cuma pengen cepat tidur, besok ada meeting jam 9..." Teruslah menulis sampai waktunya habis. Biasanya, di menit kedua, emosi yang sebenarnya mengganjal di hati akan mulai keluar dengan sendirinya.

4. Gunakan Pendekatan Bullet Points

Siapa bilang journaling harus berwujud paragraf panjang? Kalau kamu tipe orang yang praktis, buatlah bullet points atau poin-poin singkat. Misalnya, kamu cukup membuat daftar:

  • 3 hal yang bikin stres hari ini.

  • 3 hal yang sudah aku selesaikan.

  • Hal aneh yang aku lihat di kereta tadi pagi. Selesai. Sama efektifnya, jauh lebih cepat.

Ide Prompts Journaling Apa Saja yang Cocok untuk Pemula?

Terkadang, duduk berhadapan dengan kertas kosong memang menakutkan (blank page syndrome). Untuk mengatasinya, kamu bisa menggunakan journaling prompts—yaitu pertanyaan pemantik untuk memancing pikiranmu keluar.


Berikut beberapa prompts sederhana yang bisa kamu contek, pilih satu saja setiap kali kamu ingin menulis:

Prompts untuk Pagi Hari (Morning Intention)

  • Apa satu hal yang harus aku selesaikan hari ini agar aku merasa tenang nanti malam?

  • Bagaimana perasaanku saat bangun tidur hari ini? (Lelah, cemas, atau bersemangat?)

  • Apa satu kebaikan kecil yang bisa aku lakukan untuk diriku sendiri hari ini?

Prompts untuk Malam Hari (Evening Reflection)

  • Momen apa hari ini yang ternyata berjalan lebih baik dari yang aku takutkan?

  • Kapan aku merasa paling lelah atau drained hari ini? Apa pemicunya?

  • Apa satu hal yang ingin aku lepaskan dan tidak mau aku bawa tidur malam ini?

Prompts Saat Sedang Cemas atau Overthinking

  • Apa hal terburuk yang sedang aku takutkan saat ini? Apakah hal itu 100% fakta, atau cuma asumsi di kepalaku?

  • Jika sahabatku sedang menghadapi masalah ini, nasihat apa yang akan aku berikan kepadanya?

  • Sebutkan 5 hal yang ada di dalam kendaliku sekarang, dan 5 hal yang berada di luar kendaliku.

Pertanyaan Seputar Cara Memulai Journaling (FAQ)

Apakah Boleh Journaling Menggunakan HP atau Laptop?

Tentu saja boleh! Wellness itu sifatnya sangat personal dan fleksibel. Kalau kamu merasa lebih nyaman mengetik cepat di aplikasi notes HP saat sedang di commuter line, lakukanlah.

Namun, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa menulis menggunakan tangan (menulis manual) mengaktifkan bagian otak yang berbeda. Gesekan pena di atas kertas secara fisik memperlambat laju pikiranmu, sehingga memberikan efek terapeutik dan mindful yang lebih dalam dibandingkan mengetik. Jadi, sesekali cobalah versi manualnya, ya.

Kapan Waktu Terbaik untuk Menulis Jurnal?

Tidak ada aturan baku. Sebagian orang menyukainya di pagi hari bersama secangkir kopi untuk menata niat (intention setting). Sebagian lagi menjadikannya ritual malam untuk menutup hari. Temukan waktu di mana kamu bisa punya jeda 5 menit tanpa interupsi.

Bagaimana Kalau Saya Bosan dan Berhenti di Tengah Jalan?

Bolong-bolong menulis jurnal itu sangat manusiawi. Jangan jadikan journaling sebagai kewajiban yang membebani hidupmu seperti PR matematika. Kalau kamu berhenti seminggu, sebulan, atau bahkan setahun, buku jurnalmu akan selalu menunggumu kembali tanpa pernah menghakimi. Buka saja halaman baru dan mulai lagi.


Memulai journaling pada dasarnya adalah berlatih mendengarkan diri sendiri. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang memaksa kita untuk terus mendengarkan orang lain, menyediakan waktu 5 menit untuk bertanya "Bagaimana perasaanku hari ini?" adalah sebuah bentuk kepedulian (self-care) yang luar biasa radikal.


Jadi, maukah kamu mencoba mencoret-coret satu halaman saja hari ini? Ambil pena, tarik napas dalam, dan biarkan tanganmu bergerak sendiri.


Kalau kamu merasa panduan ini pas buatmu dan butuh insight lain soal mengenali diri sendiri, jangan ragu untuk jelajahi artikel di kategori Self-ReflectionTheFinerSociety. Jangan lupa subscribe newsletter kami juga agar kamu selalu dapat kiriman ide prompts menarik dan tips mindfulness yang relatable langsung di inbox-mu!

MeditationSlow TravelHealingCalmWellness TripMindfulness
3
Previous
Where are the prettiest places to visit in Europe?
Next
Where are the prettiest places to visit in Europe?
Forest

Some Journeys Change You Forever

Start Your Journey